“Saya masih door to door untuk mengenalkan produk saya ke masyarakat, maka saya juga sering ikut serta dalam pameran kerajinan di berbagai daerah, tapi sekarang saya menggunakan internet untuk promosi, “jelas Suhadak

142

“Saya masih door to door untuk mengenalkan produk saya ke masyarakat, maka saya juga sering ikut serta dalam pameran kerajinan di berbagai
daerah, tapi sekarang saya menggunakan internet untuk promosi, “jelas Suhadak. Setelah dilansir ke pasaran ia tidak percaya.
Tidak tanggung-tanggung, Gajah Mada lebih disukai oleh orang-orang seperti China dan Nepal. “Benih jenithri belum diketahui
disini (magelang) Benih kebanyakan ditemukan di Sumatera, Ambon, Sulawesi, Papua dan Kalimantan. Saya juga menanam tapi hanya sedikit
pohon, “kata Suhadak bertemu Kompas.com di kediamannya, belum lama ini. Di dasar gunung Sumbing, pohonnya masih langka.
Warga bekerja sebagai petani dari perkebunan maupu sawah. Tapi untuk Suhadak, kondisinya memiliki kesempatan untuk mengembangkan pekerjaan
Biji yang membangun itu adalah jenitri. Di tangan Suhadak, biji-bijian terbuat dari kerajinan menarik seperti tasbih atau Buddha Mala,
kalung, gelang, bantalan kursi otomatis, bola pijat hingga topi yang merupakan kepala patung Sidharta Gautama.
Menurut Suhadak, kerajinan benih, terutama Mala, digunakan untuk ritual pemujaan Buddhis. Tapi tak sedikit yang memanfaatkan ini
kerajinan untuk tujuan fashion, termasuk di Hong Kong dan Korea. Tembus ke luar negeri Sejak dulu, Suhadak sangat menyukai
Oleh karena itu, dunia gaya tidak akan terkejut saat ia cukup terampil untuk mengumpulkan benih beserta strukturnya menjadi tinggi
dan harga khas. Suhadak tidak berkecil hati meski upaya jenitri buatan tangan tidak khas dengan sendirinya
rumah di Dusun Sangubanyu, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. “Harga tergantung dari
jenis dan kesulitan dari rangkaian masing-masing produk, namun harganya juga bergantung pada keunikan ukiran alami pada biji
cangkang, lebih unik, harganya lebih mahal per biji, “jelas Suhadak. Harga yang ditetapkan untuk setiap barang bervariasi.
Misalnya, harga kalung atau tasbih Rp 25.000 per ounce, potongan pijat Rp 20.000, kursi kursi mobil antara Rp 500.000 – Rp 1
juta mahkota mahkota Gajah Mada berkisar antara Rp 1 juta – Rp 5 juta per buah. MAGELANG – Imam Suhadak
Saat ini sedang menikmati kerja kerasnya setelah bertahun-tahun melepaskan biji jenitri. Orang itu bisa mendapatkan rumahnya sendiri, dukung rumahnya
memasok pekerjaan untuk tetangganya. Bahkan Buddha Mala, yang berisi 108 biji, yang sekarang laku di China, Hongkong,
Korea, Jepang sampai Australia. Saya mencoba membuat sebuah karya yang masih jarang dibuat di sini. Salah satunya adalah mahkota Gajah Mada yang terlihat
Seperti stupa Candi Borobudur, “kata Suhadak yang sempat beroperasi sebagai teknisi galangan kapal di Cilincing, Jakarta.Baca juga: plakat wisuda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s